
Hej, Rekans! Eits, kalau udah “Hej!” pasti auto keinget dong sama brand apa? Yups! IKEA! Pernah nggak sih, Rekans niatnya ke IKEA cuma mau beli lilin aroma terapi seharga 30 ribuan, tapi pas keluar gedung malah bawa pulang satu set meja makan, rak buku, sampai boneka hiu ikonik itu? Ini sih jelas, kecantol Experiential Marketing namanya!
Kalau Rekans pernah merasakannya, tenang, kamu bukan lagi FOMO atau Impulsive Bullying. Itu bukan sekadar “khilaf” biasa, lho. Ada strategi jenius di baliknya yang dinamakan experiential marketing.
Penasaran gimana raksasa furnitur asal Swedia ini menyulap toko menjadi taman bermain yang bikin kita betah berlama-lama sekaligus menjadi laboratorium riset yang canggih? Yuk kita kupas rahasianya, Rekans!
Apa Sih Experiential Marketing Itu?

Sebelum kita bedah dapur IKEA, kita samakan persepsi dulu ya, Rekans. Secara sederhana, experiential marketing adalah strategi pemasaran yang berfokus pada menciptakan koneksi antara brand dan konsumen melalui pengalaman yang nyata dan berkesan. Makanya disebut, Experiential!
Bukan cuma sekadar jualan produk lewat iklan satu arah, strategi ini mengajak Rekans untuk “masuk” ke dalam dunia brand tersebut. Tujuannya? Supaya Rekans nggak cuma tahu produknya secara fungsi, tapi juga merasakan fungsi/kegunaannya, manfaat, serta bagaimana pengaplikasiannya. Bahkan kamu juga jadi bisa rasain emosi, dan nilai yang ditawarkan secara langsung.
Baca juga: Nasi Padang Keliling: The Next Primadona of Brand Activation
Labirin IKEA dengan Bumbu Experiential Marketing: Strategi “Fixed Path” yang Jenius

Rekans pasti sadar kalau desain toko IKEA itu seperti labirin. Dalam dunia retail, ini disebut Fixed Path Design. Kita diarahkan melewati lorong-lorong yang sudah ditentukan dari awal sampai akhir. Tapi, di balik pengalaman imersif ini, ada maksud terselubung yang sangat cerdas lho secara bisnis.
- Showroom yang “Relatable“: Berantakan tapi Estetik
IKEA nggak cuma memajang kasur di atas palet kayu yang kaku. Mereka membangun kamar tidur lengkap dengan sprei yang sedikit berantakan, lampu baca yang cahayanya hangat, sampai buku yang halamannya di atas meja.
Rekans di sini dibuat seolah-olah sedang bertamu ke rumah teman yang sangat estetik. Inilah inti dari pengalaman imersif: membuat konsumen kita jadi bisa membayangkan diri mereka saat menggunakan produk tersebut di kehidupan nyata.
IKEA sekali lagi ngebuktiin dirinya sebagai brand yang gak sekadar jual furnitur; mereka menjual “solusi kehidupan” yang ideal namun tetap terasa manusiawi, relevan, dan relatable.
- Laboratorium Data yang Tersembunyi
Nah, ini yang jarang disadari! Setiap showroom yang Rekans lewati sebenarnya adalah titik riset. Dengan melihat di titik mana Rekans berhenti paling lama, produk mana yang paling sering disentuh, atau laci mana yang paling sering dibuka, IKEA mendapatkan data perilaku konsumen yang sangat akurat.
Data ini jauh lebih valid daripada sekadar hasil kuesioner, karena ini adalah perilaku asli di lapangan. Dari sinilah mereka tahu produk apa yang benar-benar diinginkan pasar.
- Sentuhan, Duduki, dan “IKEA Effect“
Di IKEA, Rekans diberikan kebebasan berekspresi dan berinteraksi penuh. Rekans bebas rebahan di kasur, mencoba empuknya sofa, hingga membuka-tutup laci dapur. Interaksi fisik ini bukan tanpa alasan, lho.
Secara psikologis, semakin lama Rekans berinteraksi dengan sebuah barang, semakin besar rasa memiliki (sense of ownership) yang muncul. Hal ini sering dikaitkan dengan IKEA Effect, di mana kita jadi cenderung lebih menghargai barang yang kita sentuh dan rasakan sendiri.
Ssstt.. Inilah yang bikin Rekans merasa sulit untuk tidak memasukkannya ke dalam troli!
Kenapa Offline Store IKEA Masih Jadi Raja?
Di tengah gempuran belanja online yang serba praktis, Rekans mungkin berpikir bahwa toko fisik atau offline store mulai kehilangan taringnya. Namun, data di IKEA justru berkata sebaliknya.
Fakta Menarik untuk Rekans: Meskipun IKEA terus memperkuat platform digitalnya, ternyata sekitar 70% revenue (pendapatan) IKEA justru datang dari offline store. Kenapa bisa begitu?
Karena pengalaman imersif yang melibatkan panca indera seperti mencium aroma kayu baru, merasakan tekstur kain sprei dan empuknya bantal, hingga mencicipi Swedish Meatballs yang ikonik di store IKEA secara langsung, gak bisa digantikan sepenuhnya oleh feed social media semata. Toko fisik adalah tempat di mana “kebutuhan” berubah menjadi “keinginan” secara instan, melalui stimulus lingkungan yang dirancang sempurna.
Experiential Marketing VS Teknologi yang Memperkuat Data

Meskipun kuat dan jadi rasa di sektor offline, IKEA tetap sangat melek teknologi, Rekans. Mereka tidak menutup mata akan digitalisasi. Lewat aplikasi IKEA Kreativ yang menggunakan teknologi Augmented Reality (AR), mereka berhasil banget nih menghapus keraguan pembeli dengan membiarkan kita menaruh furnitur virtual langsung di ruangan rumah kita sendiri hanya lewat kamera HP.

Smart-nya lagi, data dari penggunaan aplikasi ini kemudian dikombinasikan dengan perilaku konsumen di toko fisik untuk menentukan produk apa yang bakal jadi tren tahun depan. Sekali lagi, ini adalah kolaborasi apik antara teknologi dan experiental marketing!
Baca juga: 6 Tren Digital Marketing 2026, Update Strategi untuk Brandmu!
Data-Driven Marketing: Hasil dari “Labirin Jenius”

Layout labirin yang mengandalkan konsep experiental marketing sekaligus berfungsi sebagai laboratorium riset perilaku, pada akhirnya memberikan data hasil riset yang sangat berharga bagi strategi marketing IKEA berikutnya. Dari pola jalan pengunjung, mereka bisa melakukan optimasi seperti:
- Product Placement: Meletakkan barang kecil dengan harga yang paling terjangkau di jalur utama agar mudah diambil tanpa berpikir panjang (impulse buy).
- Cross-selling: Menaruh lampu meja tepat di samping display tempat tidur karena data menunjukkan orang yang mencari kasur pasti otomatis butuh penerangan baru.
- Optimasi Stok: Mereka tahu produk mana yang “menang di mata” alias banyak dilihat tapi “kalah di tangan” atau jarang dibeli, sehingga mereka bisa mengevaluasi kembali harga atau desainnya dengan actual nan cepat.
Experiential Marketing IKEA, Strategi Ulung Untuk Brand Positioning Pakem!
Strategi experiential marketing yang dijalankan oleh IKEA membuktikan bahwa pengalaman fisik dan emosional tetap menjadi pemenangnya Rekans. Dengan menciptakan pengalaman imersif yang relatable, memberikan ruang untuk interaksi fisik bagi audience atau konsumen, dan memanfaatkan toko sebagai laboratorium data, IKEA berhasil mempertahankan dominasinya selama lebih dari 80 tahun. Izinnn!
Gak cuma IKEA, Rekans! Strategi experiental marketing ini, tentu bisa kamu eksekusi juga untuk brand mu. Biar makin terplanning dan based on data dengan matang, Reaktan Asia Digital – Digital Marketing Agency Bali hadir untuk siap membantu kamu sebagai best partner di dunia digital marketing.
Dengan pengalaman yang sudah berkecimpung selama hampir 7 tahun untuk handle 70+ UMKM di Bali sejak 2019, Reaktan sebagai Marketing Agency Bali akan bantu kamu dalam menyusun langkah-langkah taktis untuk strategi marketing yang gak hanya powerful di online namun juga di offline! Buat Digital Agency Bali seperti kami, digital dan konvensional itu adalah 2 aspek yang harus saling bersinergi! Terutama di dunia digital marketing era Marketing 6.0 kayak sekarang, yang gak hanya fokus soal angka engagement maya tapi juga engagement nyata yang hangat dan teringat setiap saat.
Jadi, buat Rekans yang sekarang lagi struggle membangun bisnis, ingatlah: audience atau konsumen mungkin aja lupa sama apa yang kamu katakan, tapi mereka gak akan pernah lupa soal bagaimana brand kamu membuat mereka merasa.
Gimana, Rekans? Jadi makin paham kan kenapa setiap ke IKEA kita selalu “terhipnotis” buat ujug-ujug belanja dan ngisi segala furniture di rumah? Share insight atau pengalaman kalian juga deh soal strategi marketing IKEA yang genius ini ya, Rekans!
Baca juga :
- Tumbler Stanley, dari Kuli Bangunan sampai Jadi Lifestyle Gen Z!
- Strategi Kejutan Low Budget dengan Guerilla Marketing
- Ini Beda KOC vs KOL, Biar Strategi Marketing Gak Salah Langkah!



