Heij, Rekans! Pernah nggak sih kamu merasa “klik” banget sama sebuah brand bukan karena harganya affordable atau kualitas serta designnya yang fit banget sama kamu, tapi just karena brand itu seolah paham apa yang kamu rasain? Rasa-rasanya kayak ada ikatan batin nih antara kamu sama brand yang bikin getaran hati kalian jadi super relate! Nah kalau pernah, berarti kamu sudah terkena sihir emotional marketing!
Kenalin, ini Punch, seekor bayi monyet Makaka di Ichikawa City Zoo Jepang yang sempat viral belakangan ini, bukan karena tingkah gemesnya, melainkan karena kisah pilunya. Ditelantarkan oleh induknya, Punch kemudian menemukan “napas” baru nih Rekans, lewat sebuah boneka monyet IKEA yang pada akhirnya jadi sosok figur pengganti induknya.
Dari monyet Jepang kecil yang pilu inilah, keajaiban emotional marketing antara Punch dan IKEA terjadi tanpa perlu sesuatu yang direncanakan apalagi dipaksakan. Haik, lets go Rekans!
Punch dan Pelukannya: Boneka dengan Sejuta Rasa Aman dan Kasih Sayang
@petflix07 My heart goes to you Punch 🥺 #punch #punchthemonkey #monkey #plush #japanmonkey
Bagi kita, mungkin itu cuma boneka seri DJUNGELSKOG. Tapi bagi Punch, boneka itu adalah substitusi sekaligus representasi sosok ibu yang nggak sempat dia dapatkan dari awal ia terlahir. Alih-alih dilihat hanya sebagai mainan, Punch selalu memeluk boneka itu Rekans dan menggandengnya kemana pun dia pergi.
Saat foto Punch memeluk erat boneka tersebut tersebar dan meledak viral, semua orang jadi terenyuh dan jadi selalu ingin tahu tentang update terbaru kehidupan monyet kecil ini. Terlebih di komunitasnya, Punch pada awalnya mendapat penolakan dari monyet-monyet lain saat mulai terjun bergaul. Sekarang dunia jadi nggak cuma melihat seekor monyet Rekans, melainkan dunia jadi melihat emosi yang jujur dan kebutuhan dasar semua makhluk hidup: rasa aman dan kasih sayang.
IKEA dan Kekuatan Emotional Marketing yang Sesungguhnya

Apa hubungannya dengan strategi Emotional Marketing? Menurut Glints, emotional marketing adalah teknik pemasaran yang menggunakan emosi untuk membuat audiens mengingat, berbagi, dan akhirnya membeli produk. Mari kita bedah!
Dalam kasus Punch, Punch mendapatkan boneka dari caregiver yang kebetulan bonekanya itu berasal dari brand IKEA, Rekans! Nah ditambah kisahnya yang melambung viral, brand IKEA sebenarnya secara tidak langsung sedang berada pada kapal yang sama di dalam kisah Punch. IKEA jadi nggak perlu keluar budget iklan atau campaign terukur dalam nominal miliaran rupiah.

Narasi tentang “kenyamanan” dan “keamanan” yang ditawarkan produk IKEA terbukti secara nyata lewat perilaku alami Punch bersama boneka tersebut. Saat orang melihat Punch merasa aman memeluk boneka tersebut, secara alam bawah sadar mereka mengasosiasikan IKEA sebagai simbol rasa warm, comfort, dan penuh kasih sayang lewat story telling Punch.
Emotional Marketing: Be a Part of What They Care About

Nah berangkat dari sini, IKEA kemudian tergerak untuk melakukan sedikit amplifikasi sentuhan lembut. Tanpa babibu IKEA kemudian mendonasikan 30 boneka mereka termasuk boneka orang utan yang sama untuk eksibit tempat tinggal Punch. Di sini IKEA melihat, bahwa dalam modern marketing saat ini, gak semua momen viral bisa selalu didekati dengan pendekatan marketing yang terencana, apalagi pendekatan marketing yang agresif dan justru eksploitatif.
Momentum atau sebuah kebetulan, gak ada salahnya untuk kita dekati asal pendekatan yang dilakukan cocok dengan momentum yang sedang terjadi. Seperti Punch, yang momentumnya lebih cocok kita respon dengan empati, proaktif, dan mengedepankan niat baik serta sentiment positif. Bukan “Take advantage”, tapi “Be a part of what they care about.”
Momentum ini kadang bisa disikapi juga dengan cara diam, seperti strategi marketing Kopi Tuku saat terjadi insiden tumblr hilang di transportasi umum. Atau seperti strategi marketing Stanley, yang merespon kasus viral kebakaran mobil audiensnya dengan emotional marketing berupa dukungan bantuan dan kompensasi.

Nah ini lah kemudian yang dilakukan oleh IKEA. Melihat Punch, IKEA peka, kalau momentum ini hanya bisa didekati dengan pendekatan empati alias emotional marketing. Nilai plusnya, kisah haru Punch ini selaras banget dengan brand Value IKEA, sehingga dengan sedikit sentuhan lembut nan penuh kasih oleh IKEA, movement ini jadi memperkuat brand positioning IKEA di dunia global furniture.
Kuncinya pastikan juga kalau ini bukan sekedar brand gimmick belaka, melainkan empati penuh. Kalau citra genuine dan sincere sudah datang di hati tiap audiens, maka loyalitas audiens terhadap brand akan mekar dengan sendirinya deh Rekans!
Inilah inti dari brand identity, brand positioning, momentum yang pas, ditambah kepekaan IKEA yang dibalut dalam emotional marketing sebenarnya. Mereka nggak cuma jualan furnitur bongkar-pasang, mereka jualan “rumah”. Dan rumah yang dimaksud di sini, adalah dalam bentuknya yang paling murni: tempat di mana kita selalu bisa merasa aman dan nyaman.
Terus Gimana Caranya “Connect” ke Audiens lewat Emotional Marketing?
Kalau Rekans mau brand atau bisnismu punya dampak yang sama, ada tiga hal yang bisa dipetik dari kasus ini:
- Humanize Your Brand: Jangan jadi brand yang robotic, tone deaf, atau agresif terhadap revenue melulu. Tunjukkan pendekatan dengan sisi humanis, empati, dan kemanusiaanmu.
- Cari Titik Relevansi: IKEA relevan dengan “kelembutan”, “keamanan”, dan “kenyamanan”. Punch butuh semua itu. Match! Apa titik relevansi brand kamu dengan masalah yang dihadapi audiens saat ini?
- Embrace Authenticity: Cerita Punch itu nyata, sedih, sekaligus indah. Jangan takut menunjukkan sisi emosional yang jujur, karena itulah yang bikin orang merasa terhubung.
Jadi, buat Rekans yang lagi ngerancang strategi buat bisnis atau project-nya, coba deh sesekali taruh angka-angka statistiknya sebentar. Coba pikirin: “Gimana caranya brand ku bisa jadi teman atau solusi yang hangat buat mereka?”
Emosi Adalah “Magnet” Baru, Saatnya Main Cantik dengan Hati
Emotional marketing bukan soal memanipulasi perasaan, tapi soal menunjukkan empati. Produk yang simpel pun bisa punya makna empati yang mendalam kalau bermanfaat di dalam kisah yang tepat. IKEA dan Punch mengajarkan kita bahwa terkadang, strategi terbaik nggak melulu lahir dari ruang rapat yang dingin, tapi dari pemahaman sederhana tentang apa arti sebuah pelukan.
Saatnya serahkan urusan branding dan digital marketing brand kepada Marketing Agency Bali: Reaktan Asia Digital! Sebagai Digital Marketing Agency Bali yang sudah membantu lebih dari 70+ UMKM selama lebih dari 7 tahun, kami siap bantu branding bisnis kamu melaju lebih standout dengan digitalisasi berbagai lini.Kami adalah tim ahli yang siap jadi bestie brand kamu untuk elevate the branding and to the next level, together!
Gimana menurut Rekans? Apa kamu punya produk yang sampai sekarang masih disimpan karena punya kenangan emosional tertentu? Jangan lupa, share juga pengalaman kamu di kolom komentar ya, Rekans!
Baca juga:




